Malalak (UNAND) – Di balik banjir bandang dan longsor yang melanda Sumatera Barat, tersimpan banyak kisah pilu. Salah satunya datang dari Jorong Toboh, Nagari Malalak. Seorang ibu dengan keteguhan luar biasa harus memikul trauma berlapis di benaknya. Dalam kondisi tengah mengandung, ia kehilangan rumah sebagai tempat berlindung, dua buah hatinya, serta sang ibu tercinta.
Sore itu, hujan memang tak lagi lebat. Aulia Rahmi, atau yang akrab disapa Rahmi, berada di dalam rumah bersama dua anaknya, Q (7 tahun) dan A (1 tahun), serta ibunya, J (60 tahun). Tak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Situasi terasa aman, hingga tiba-tiba terdengar suara sayup seperti batu bergelinding. Dengan sigap, Rahmi keluar rumah. Saat itulah ia menyadari bahaya datang, tumpukan tanah longsor bercampur batu dan batang pohon besar meluncur cepat ke arah mereka. Dalam hitungan detik, banjir bandang dan longsor besar pun terjadi.
Di tengah kepanikan, Rahmi berusaha menyelamatkan diri bersama kedua anak dan ibunya. Namun nahas, genggaman tangannya terlepas. Kedua anaknya terseret arus banjir bandang. Dalam ingatannya yang masih membekas, Rahmi terseret longsor sejauh kurang lebih 200 meter dari rumahnya.
Rahmi ditemukan selamat dengan kondisi luka-luka dan patah tulang pada lengan kiri. Tim medis segera melakukan penanganan dan merujuknya ke rumah sakit daerah. Di tengah duka yang mendalam, sebuah mukjizat terjadi, bayi yang tengah ia kandung dinyatakan selamat.
Lebih dari dua pekan pascakejadian, Rahmi kini tinggal sementara di rumah keluarga yang tak jauh dari lokasi rumahnya. Tim Medis Universitas Andalas yang tergabung dalam Tim Tanggap Bencana UNAND melakukan pemeriksaan kesehatan, mengecek kondisi bayi dalam kandungan, serta memberikan pendampingan trauma healing pada Selasa (9/12). Perlahan, senyum mulai tampak di wajah Rahmi, meski bayang-bayang bencana masih kerap hadir di benaknya. Sang ibu sempat berkelakar lirih, berharap anak yang akan lahir berjenis kelamin perempuan sebuah harapan kecil untuk mengobati kehilangan kakaknya yang telah lebih dulu pergi.
Hingga 9 Desember, tercatat 17 orang dilaporkan hilang akibat bencana ini. Sebanyak 14 korban telah ditemukan, sementara tiga orang lainnya masih dalam pencarian, termasuk dua anak Rahmi. Tim gabungan terus berupaya melakukan pencarian, dengan harapan seluruh korban dapat segera ditemukan.
Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik